Daun Kering (2)
Bismillahirrahmanirrahim
Siang itu, tidak seperti biasanya, saya dan teman-teman di kelas tidak belajar. Kebetulan saat itu pelajaran matematika peminatan (kurikulum 2013) dan beberapa guru sedang rapat persiapan Idul Adha, salah satunya adalah guru matematika peminatan kami. Merasa bosan di kelas, saya pun keluar kelas dan bersandar pada pembatas ruangan yg berada di lantai 2 itu. Tepat di depan saya, berdiri sebatang pohon tua. Memandang semua yang serba hijau (kebetulan cat sekolah warna hijau) membuat mata saya rileks dan hati bertambah tenang.
Awalnya saya hanya ingin menenangkan pikiran dan hati saya yg akhir-akhir ini agak sesak oleh 'tantangan' organisasi. Terlantunlah sedikit-sedikit shalawat, yang semakin lama tak putus-putus bahkan tak terbendung air mata. Sambil mengamati pohon dihadapan saya. Saya pun tersadar.
Bahwa layaknya organisasi, pohon pun tak sedikit daunnya yang berguguran. Namun tak sedikit pula daun daun hijau yang masih setia mendayung-dayung diterpa angin, walau ada juga yg berlubang karena kering bahkan ada yg sampai robek. Tak sedikit kita menjumpai anggota organisasi yang sejak awal berkomitmen akan tetap subur layaknya daun hijau, namun karena tak pandai beradaptasi dengan cuaca akhirnya kering dan gugur. Namun bagi daun-daun yang sebagiannya sudah kering, itu bukan tanda bahwa mereka akan gugur pula. Mereka sedang berjuang, berjuang agar tak ikut kering, tak ikut mati. Dan perjuangan mereka jauh lebih sulit daripada daun-daun yang masih hijau seutuhnya.
Saya pun menengok ke kanan, dan memandang ke kejauhan. Kebetulan dibelakang sekolah saya ada kampung yang di sebut Kampung Benting. Sejauh saya memandang hanya ada atap-atap rumah dan...! Yah, pohon! Pohon kering, hanya dengan batangnya yang legam-legam. Hijau tak nampak, daun tak nampak.
Lagi-lagi saya sadar, dalam lingkungan yang tak jauh beda. Panas sama, angin sama, hujan sama namun menghasilkan tumbuhan yang begitu berbeda. Begitu pun di organisasi. Komitmen awal sama, amanah sama, koneksi sama. Namun mengapa tetap banyak yang menjadi 'kering'?
Walau kita semua sama dalam mendapat tantangan. Namun tak semuanya menanggapi tantangan dengan cara yang sama. Yang kita harus lakukan hanya tetap subur dan memberikan keteduhan dan kenikmatan bagi orang-orang yang berteduh pada daun yang subur. Namun bukan berarti kita mengabaikan yang kering. Berilah mereka keyakinan. Bukan sebuah paksaan. Bahwa pohon ini belum lagi tinggi, mengapa harus gugur ketika angin tak cukup nyaring?
Tak hanya dalam organisasi. Namun juga dalam kehidupan sehari-hari
Maka semangatlah kawan!
Jangan menjadi kering. Jadilah sang daun subur yang menyejukan hari-hari kami:)
Jakarta, 8 September 2016
Bagi para daun setengah kering atau bahkan mati
Siang itu, tidak seperti biasanya, saya dan teman-teman di kelas tidak belajar. Kebetulan saat itu pelajaran matematika peminatan (kurikulum 2013) dan beberapa guru sedang rapat persiapan Idul Adha, salah satunya adalah guru matematika peminatan kami. Merasa bosan di kelas, saya pun keluar kelas dan bersandar pada pembatas ruangan yg berada di lantai 2 itu. Tepat di depan saya, berdiri sebatang pohon tua. Memandang semua yang serba hijau (kebetulan cat sekolah warna hijau) membuat mata saya rileks dan hati bertambah tenang.
Awalnya saya hanya ingin menenangkan pikiran dan hati saya yg akhir-akhir ini agak sesak oleh 'tantangan' organisasi. Terlantunlah sedikit-sedikit shalawat, yang semakin lama tak putus-putus bahkan tak terbendung air mata. Sambil mengamati pohon dihadapan saya. Saya pun tersadar.
Bahwa layaknya organisasi, pohon pun tak sedikit daunnya yang berguguran. Namun tak sedikit pula daun daun hijau yang masih setia mendayung-dayung diterpa angin, walau ada juga yg berlubang karena kering bahkan ada yg sampai robek. Tak sedikit kita menjumpai anggota organisasi yang sejak awal berkomitmen akan tetap subur layaknya daun hijau, namun karena tak pandai beradaptasi dengan cuaca akhirnya kering dan gugur. Namun bagi daun-daun yang sebagiannya sudah kering, itu bukan tanda bahwa mereka akan gugur pula. Mereka sedang berjuang, berjuang agar tak ikut kering, tak ikut mati. Dan perjuangan mereka jauh lebih sulit daripada daun-daun yang masih hijau seutuhnya.
Saya pun menengok ke kanan, dan memandang ke kejauhan. Kebetulan dibelakang sekolah saya ada kampung yang di sebut Kampung Benting. Sejauh saya memandang hanya ada atap-atap rumah dan...! Yah, pohon! Pohon kering, hanya dengan batangnya yang legam-legam. Hijau tak nampak, daun tak nampak.
Lagi-lagi saya sadar, dalam lingkungan yang tak jauh beda. Panas sama, angin sama, hujan sama namun menghasilkan tumbuhan yang begitu berbeda. Begitu pun di organisasi. Komitmen awal sama, amanah sama, koneksi sama. Namun mengapa tetap banyak yang menjadi 'kering'?
Walau kita semua sama dalam mendapat tantangan. Namun tak semuanya menanggapi tantangan dengan cara yang sama. Yang kita harus lakukan hanya tetap subur dan memberikan keteduhan dan kenikmatan bagi orang-orang yang berteduh pada daun yang subur. Namun bukan berarti kita mengabaikan yang kering. Berilah mereka keyakinan. Bukan sebuah paksaan. Bahwa pohon ini belum lagi tinggi, mengapa harus gugur ketika angin tak cukup nyaring?
Tak hanya dalam organisasi. Namun juga dalam kehidupan sehari-hari
Maka semangatlah kawan!
Jangan menjadi kering. Jadilah sang daun subur yang menyejukan hari-hari kami:)
Jakarta, 8 September 2016
Bagi para daun setengah kering atau bahkan mati

Komentar
Posting Komentar