Iri

hi aku

apa kabar?

lelah ya? kata orang-orang sih semoga jadi lillah

tapi ga munafik, pasti kamu ada capeknya juga kan?


kadang aku itu suka iri

terhadap rezeki orang lain

padahal aku sudah berusaha mengistiqomahkan diri

tapi lagi-lagi

hasilnya masih nihil


kata mereka yg "lebih dewasa"

namanya rezeki, kamu gabisa bagi rata

ada saatnya kamu mendapatkannya dibagian berbeda,

tapi selepas itu mereka menunjukkan ketidaksukaan

iya, terhadap aku

katanya aku ini gak bersyukur banget ya


padahal "mereka" itu juga tidak selalu istiqomah

ada kalanya mereka lebih banyak lalainya

tapi tetap dapat apa-apa yg mereka minta

entah apa yg Allah kurangkan tapi Allah maha adil bukan?


terlepas apa yg aku rasakan dan mereka katakan,

bukannya yg paling penting adalah apa yg aku harapkan dari ridho-Nya?

terlepas kapan aku dikabulkan doanya,

bukannya yg paling penting adalah bagaimana aku terus istiqomah mempercayakan-Nya?


jika jawaban aku iya,

merasa malu gak?

merasa diri "lebih dewasa"?

merasa diri "lebih istiqomah"?

merasa diri "lebih taat"?

padahal sungguh tidak ada bentuk ketaatan jika diri merasa lebih dari orang lain


tidak ada yg lebih tau apa-apa tentang diri ku selain tuhan ku

tidak ada yg lebih adil memberikan apa-apa untuk diri ku selain tuhan ku

lalu, kenapa masih tidak sadar?

bahwa ini hanya segelintir ujian

untuk menaikkan derajat diri dihadapan yg Maha Kuasa



-nrl, 2 Mei 2020

Ramadhan malam ke-21

Komentar

Postingan Populer